12 Bands That Impressed Us in 2011

Tahun 2011 merupakan tahun yang sangat memanjakan penikmat musik di Indonesia dengan suguhan musik dari musisi serta band mancanegara. Promotor – promotor musik seakan berlomba untuk mengejar dan melobi manajemen mereka untuk melangsungkan konser di  Indonesia (baca:  Jakarta dan Bandung). Jimmy Eat World, New Found Glory, Kylie Minogue, Owl City, Linkin Park, Tame Impala, Two Doors Cinema Club, Mogwai, MONO, Iron Maiden, dan Deerhoof merupakan sekian dari banyak nama-nama besar yang berhasil datang dan melangsungkan konsernya disini.  Hampir bisa dipastikan betapa ramai dan penuh sesaknya konser-konser tersebut walaupun ada beberapa konser band internasional yang kurang diminati, tapi toh jumlahnya pun masih bisa dihitung dengan satu tangan. Tiket yang tergolong mahal bukan lagi suatu alasan untuk tidak menghadiri perhelatan ‘sakral’ demi memenuhi panggilan ‘ibadah’ menonton band atau musisi idola. Padahal jika kita perhatikan hampir semua konser musik yang memasang band mancanegara sebagai line-up-nya membandrol tiket termurah di kisaran Rp 350.000 – Rp 400.000. Tapi tampaknya bagi masyarakat Indonesia harga bukan persoalan dibandingkan dengan kepuasan (dan prestise) menonton band idola (atau band yang baru dikenal seminggu sebelumnya) secara langsung.  Kita juga patut berterima kasih dengan kegigihan para promotor yang berjuang untuk membawa band serta musisi mancanegara tersebut datang ke Indonesia walaupun entah apakah keuntungan mereka berbanding lurus dengan kegigihan tersebut. Kejelian promotor melihat peluang merupakan salah satu elemen penting bagi kesuksesan mereka membawa sebuah band atau musisi untuk datang, segala daya ditekan semaksimal mungkin mulai dari hal yang paling minimal tetapi maksimal menjaring atensi massa, salah satunya Twitter. Ya, Kini Twitter tidak hanya diisi oleh akun-akun humor yang kehabisan ide ataupun selebtwit yang keracunan identitas, mereka kini juga berbagi ruang dengan promotor musik yang mempromosikan eventnya melalui media tersebut.

Tahun 2011 juga merupakan tahun yang dibanjiri oleh kehadiran band serta musisi lokal pendatang baru. Banyak dari mereka yang mengeluarkan album dan bersaing dengan para musisi pendahulunya untuk mendapatkan ceruk di dalam Industri. Tidak terhitung berapa banyak band pendatang baru yang menghiasi suguhan musik di layar kaca setiap hari. Mungkin jumlahnya setara dengan angka penjualan kendaraan bermotor di Indonesia. Jumlah yang berbanding terbalik secara kualitas, hampir sama dengan angka penambahan panjang dan lebar jalan raya yang juga berbanding terbalik dengan pertumbuhan kendaraan bermotor. Tidak hanya sampai disitu, kondisi ini juga diperparah oleh eksploitasi berlebih dari banyak produser musik yang mencoba menggali peruntungan (atau mengggali ‘kuburnya’ sendiri?) dengan membentuk boyband dan girlband. Sebuah fenomena lama yang kini hadir kembali dan tumbuh subur di dalam Industri berkat booming-nya musik K-Pop. Apakah dengan hadirnya mereka wajah musik Indonesia semakin berwarna? Ya, berwarna pekat dan hampir tak becahaya. Anggap saja ini sebuah sinisme belaka, tapi maaf di tahun 2011 ini kami sama sekali tidak tertarik dengan apa yang disuguhkan oleh industri arus utama secara musikalitas (karena sebagai laki-laki normal toh kami masih sangat tertarik dengan penampakan Cherrybelle). Oleh karena itu lah didalam 12 list ini tidak ada satupun band yang termasuk ke dalam hitungan arus utama. 12 band dalam daftar ini merupakan bentuk ketidakpuasan kami dengan apa yang disuguhkan oleh musik arus utama, sebuah pilihan yang mungkin jika ‘diadukan’ dengan list yang berisikan band atau musisi arus utama akan kalah apresiasi tapi tidak secara kualitas. Mengutip sebuah kalimat pada artikel di harian Kompas, minimnya apresiasi publik bukan selalu berarti ada ketidakpuasan, namun bisa juga merupakan bentuk ketidakpedulian atau ketidaktahuan.

Apapun bentuknya, suatu evaluasi akhir tahun memang kerap kali membingungkan karena selalu banyak pertimbangan tertentu dalam membuatnya. Kami bisa saja menuliskan nama-nama band atau musisi yang diramalkan sebelumnya sebagai metode pemilihan, namun itu tidak menjadi opsi. Sebaliknya, 12 band yang ada di list ini dipilih berdasarkan kesan yang kami dapat baik setelah mendengarkan maupun menyaksikan aksi mereka secara langsung. Daftar seperti ini lazimnya memang dibuat menjelang akhir tahun, namun dikarenakan kesibukan dan beberapa hal akhirnya daftar ini tidak sempat dimuat pada waktunya. Dan inilah daftar 12 bands that impressed us in 2011 yang layak simak di tahun 2012. -Gilang Nugraha
————————————————————————————————————————————————
1. BACKWOOD SUN

Kuintet asal Jakarta yang mengaku terinspirasi oleh musik dari era 60-70-an awal ini menamakan musik yang dibawakannya sebagai ‘Magic Folk’. Harmonisasi yang apik pada lagu-lagunya dapat mereka pertanggung jawabkan dengan baik di live performance-nya. Salah satu band yang menjadi line-up RREC Fest #2 ini menerjemahkan musik folk secara megah dengan takaran psikadelia dan aura timur yang cukup. Single mereka yang berjudul “The Man Has Come” dirilis secara digital oleh Take Aim Fire, label independen asal Leeds UK. Saksikan mereka secara live.
————————————————————————————————————————————————
2. SIGMUN

“Gila ini lagu mabok banget..” itu merupakan kalimat pertama yang keluar dari mulut sahabat kami ketika secara tak sengaja pemutar musik di PC memilih sebuah lagu dari Sigmun yang berjudul “Land of The Living Dead”. Dan memang nuansa trippy sangat terasa di lagu mereka. Sigmun mengkombinasikan blues dan heavy metal yang pekat dari alam bawah sadar mereka. Sound heavy yang mereka hasilkan memaku kepala kita untuk tetap menunduk, pecah. Band yang pada awalnya bernama LOUD ini juga merupakan Pengisi soundtrack film “The Raid”.
————————————————————————————————————————————————
3. POLKA WARS

Sebenarnya kami sedikit bingung untuk menerjemahkan secara tulisan balutan musik yang dibawakan oleh Polka Wars, ada sisi keindahan dan sepi yang ditampilkan. Mereka seperti versi minimalis dari The Temper Trap dengan vokal bariton yang terdengar seperti terpengaruh oleh Paul Banks. Eksplorasi sound yang ditampilkan oleh Polka Wars terbilang sangat unik, layer gitar yang tidak bertumpuk dengan delay tak berlebih, basslline mengalun yang seakan mengajak kita untuk bergoyang, dan isian drum minimalis. Kedekatan mereka dengan para pelaku skena musik eksperimental lokal seperti Muhammad Fahri (Duckdive), Rizky Auliya (Sawi Lieu, Sangsaka Worship) dan Wing Narada Putra (Maverick ) yang juga menjadi produser mereka sepertinya merupakan kunci dari keunikan sound yang mereka miliki.
————————————————————————————————————————————————
4. THE WELLINGTON

The Wellington merupakan band Indie Pop/Jangly Pop asal Depok yang dibentuk pada tahun 2003. Mereka dapat dikategorikan sebagai band underrated yang tidak terlalu mendapatkan exposure dari media, padahal jika didengarkan materi lagu The Wellington bisa dibilang sangat menawan dan sejujurnya sangat layak disandingkan dengan nama-nama besar skena Indie Pop lokal. Pengaruh dari Blueboy cukup terasa ketika pertama kali kami mendengarkan single mereka yang berjudul “A Thousand Yards”, single yang juga dirilis dalam format CD-R oleh Heyho! Records, sebuah label Indie Pop lokal yang memiliki katalog rilisan berkualitas.
————————————————————————————————————————————————
5. HIGHTIME REBELION

Beberapa kali saya berdecak ketika mendengarkan demo dari Hightime Rebellion, dua track yang memfusikan funk, pop, dengan sedikit bauran post-punk dan gaya vokal fragile yang terdengar sangat berhati-hati menjamah nada. Formula yang membawa angin segar ke dalam skena musik independen lokal. Hightime Rebellion merupakan band asal Jakarta pertama yang akan segera merilis albumnya dibawah naungan Fast Forward Records (FFWD Records) dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Langkah yang sangat baik bagi band bentukan tahun 2007 ini, mengingat FFWD Records merupakan label sidestream dengan rilisan yang sudah tidak dapat diragukan lagi kualitasnya.
————————————————————————————————————————————————
6. PAYUNG TEDUH

Seperti namanya, menikmati alunan musik dari Payung Teduh memang sangat meneduhkan jiwa. Kuartet jebolan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini menyuguhkan aransemen musik yang aman dan renyah di telinga dengan didukung oleh departemen lirik diatas rata-rata. Band yang kini sedang dalam proses pembuatan album keduanya dibawah naungan Ivy League Music ini menawarkan suguhan musik yang tergolong mature, perpaduan antara 60′s Pop, Keroncong, dan Jazz berbenang merah akustik. Cocok sebagai teman berkontemplasi ketika hujan atau hanya sebagai musik latar ketika minum kopi. Tidak heran jika Ramondo Gascaro dari SORE tertarik untuk menjadi produser di album kedua mereka.
————————————————————————————————————————————————
7. MONOCHROMATIC

Monochromatic merupakan salah satu band yang patut diperhitungkan kualitas musiknya ditengah gempuran musik ‘itu-itu saja’ yang melanda skena musik Bogor saat ini. Mereka melawan arus dan alur yang telah ada. Orang gila macam apa yang membawakan jenis musik Triphop di Bogor? Tapi ini bukan usaha ‘bunuh diri’ bagi mereka, sebaliknya apresiasi yang mereka dapatkan terbilang sangat baik. Pengaruh Björk kental membasahi gaya penyanyian vokalis mereka, tidak buruk tapi juga tidak baik, mereka akan lebih baik jika bisa lepas dari bayang-bayang idolanya tersebut. Beberapa waktu lalu EP mereka yang berisi empat lagu dirilis secara gratis oleh Weisskalt/Blauwarm Netlabel asal Jerman.
————————————————————————————————————————————————
8. IKAT KEPALA

Bayangkan sebuah kapal yang berisi punk rocker asal Irlandia berlabuh di Tanjung Priok dengan misi ‘mensyiarkan’ musik folk-punk tradisional kepada pemuda lokal. Mungkin jika hal tersebut benar-benar terjadi maka gerombolan asal Jakarta yang menamakan diri mereka Ikat Kepala akan menjadi salah satu lulusan terbaiknya. Band yang terbentuk pada tahun 2005 ini memformulasikan keriaan musik celtic punk dengan liarnya classic punk ditingkahi susupan folk lokal yang seakan menasbihkan mereka menjadi penjaga euforia dalam tiap pesta perayaan kemenangan tim sepakbola lokal.
————————————————————————————————————————————————
9. VAGUE

Era DC Revolution Summer seakan dibangkitkan kembali di Jakarta oleh trio yang terdiri dari Yudis (Vokal & Gitar), Adit (Bass), dan Jans (Drums). Ketiganya merupakan nama – nama lama di skena musik independen lokal dan masih memperkuat band mereka sebelum Vague seperti Jirapah, Obsesif Kompulsif, dan Raincoat. Vague terpengaruh oleh sound emotive hardcore gelombang revolution summer yang melahirkan band-band seperti Rites of Spring, Embrace, Happy Go Licky, Moss Icon, dll. Diperkirakan tahun ini akan banyak bermunculan band revivalis yang terinspirasi oleh gelombang revolution summer.
————————————————————————————————————————————————
10. RATRATS

Band baru bermuka ‘lama’ asal Bogor ini seakan menumpahkan alkohol ke dalam jerigen bensin yang terbakar diriuhnya suara knalpot dan kabut asapnya. Riska Chummy (Psychotic Angel) , Norman (The Safari), Nicky (Closet 38), dan Kiky bermain-main di arena rock/southern rock/heavy metal ala DOWN, Baroness, dan Jack Daniels Overdrive. Sebuah terobosan segar di skena musik Bogor yang terbilang ‘membosankan’. Seharusnya EP pertama mereka dirilis oleh Hujan! Rekords pada tahun 2011 lalu, namun karena beberapa hal prosesnya sedikit terhambat. Hopefully tahun ini EP tersebut akan segera dirilis.
————————————————————————————————————————————————
11. PAL/NTSC

Mereka menyebut musiknya sebagai ’electronic dub andalusian boots’, entah apa artinya yang pasti PAL/NTSC cukup membuat kami tercengang ketika mereka tampil di RRREC Fest 2011 lalu. PAL/NTSC terdengar seperti perpaduan antara musik Dance Punk ala Foals yang dihias oleh pola permainan synthesizer distingtif dan beat drum genit yang seakan mengajak kita untuk menghentakan kaki di tempat. PAL/NTSC perlahan tapi pasti mulai merangsek ke permukaan dan bukan tidak mungkin di tahun 2012 ini pergerakan mereka akan semakin ‘liar’. Alphabeta!
————————————————————————————————————————————————
12. AAS

Band Dark Punk/Post-Punk asal Medan ini awalnya bernama The Ada Ada Saja dengan konsep musik yang lebih rawlo-fi, dan sekenanya sampai mereka memutuskan untuk vakum. Tahun 2011 lalu geliat bangkitnya AAS sudah mulai tercium saat salah satu teman penggiat webzine di Medan memberi kabar via Twitter bahwa AAS kembali dan berencana untuk merekam materi lamanya yang sempat terbengkalai. Sampai akhirnya dipenghujung 2011 lalu AAS mengeluarkan single “Bonaparte” yang direkam ulang sebagai wakil dari Wave Zine di IndoSinglesClub. Kabarnya mereka akan mengeluarkan split album dengan band bernama TRAP tahun ini. Layak untuk kita tunggu.
————————————————————————————————————————————————

2 total comments on this postSubmit yours
  1. wah.. pades brur

  2. Vague kenceng abis sob

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Hujan! Radio © 2012 All Rights Reserved

Powered by Idea Loka

Back To Top
Stop SOPA