Kehebohan Laneway Festival 2012 mungkin sudah berlangsung seminggu yang lalu, tapi Indonesia cukup beruntung kedatangan beberapa pengisi acara Laneway,(Feist, The Horrors, The Pains of Being Pure at Heart), setidaknya masih ada sisa euforia. Ada banyak hal yang memotivasi para penonton Laneway terutama yang berasal dari luar Singapura, mungkin Feist, atau M83, Girls, The Pains of Being Pure at Heart, dll. Yang jelas, di Laneway 2012 semua aksi terbaik di tahun 2011 berkumpul di sana. Saya sendiri, termotivasi untuk merasakan kehadiran 90s sound di Laneway. Selain untuk M83, Yuck dan The Pains of Being Pure at Heart adalah alasan utama kenapa Laneway 2012 begitu istimewa (setidaknya bagi saya).
Kilas balik ke awal 2011 saat pertama kali mengetahui Yuck dari sebuah webzine yang merekomendasikan band ini bagi para pecinta band-band tahun 1990-an seperti Dinosaur Jr. atau Pavement. Setelah mengunduh album mereka, bukan hanya ekspektasi untuk nostalgia distorsi 90-an yang terpenuhi, lebih dari itu saya bahkan menobatkan album ini sebagai album terbaik tahun 2011. Sebagai pendatang baru yang tidak terlalu baru, Yuck adalah aksi sederhana yang mengobati kerinduan kita akan komposisi lagu yang mudah dicerna. Kedua personilnya sebelumnya pernah tergabung dalam Cajun Dance Party, band yang lumayan sebenarnya, tapi mungkin Yuck adalah bentuk yang lebih sempurna. Kesan pertama mendengar mereka, jarang yang berhasil menebak mereka berasal dari Inggris karena nuansa Seattle sound begitu lekat di sebagian besar lagunya. Singkat kata, dengan gaya para personil yang tidak terlalu mencolok, Yuck justru mencuri perhatian dengan musiknya.
Adalah keputusan yang tepat menghadirkan mereka di Laneway, tapi sayang mereka dipasang terlalu awal dan siang di festival ini. Ahasil sebagai rombongan khas Indonesia yang hobi ngaret, saya harus merelakan beberapa lagu dimainkan saat masih harus mengantri masuk. Tanpa banyak basa-basi, “Holing Out” langsung menghajar siang terik dan membuat penonton semakin kepanasan. Suara yang mereka hasilkan bisa dipastikan sebagus apa yang kita dengar di mp3, bahkan dengan distorsi lebih ‘nendang’. Selesai dengan hentakan pertama, Yuck lanjut dengan salah satu hits awal mereka, “The Wall”, menambah semangat. Dilanjutkan dengan lagu andalan kedua dari albumnya “Shook Down”, tanpa perlu permainan gitar yang rumit, lirik manis lagu ini seolah mendinginkan sinar matahari.
Setlist disusun oleh Yuck sedemikian rupa, selang-seling antara lagu dengan tempo cepat ke tempo yang sedang atau pelan. Memang penontonnya tidak terlalu banyak, tapi barisan penonton ini sepertinya memang menanti penampilan Yuck. Lagu “Georgia” dan “Suicide Policeman” sepertinya digemari oleh para penonton yang mulai merapat ke depan. Lagu dari album B-sides juga dimainkan di sini, “Milkshake” lantas mengalun dengan pasti. Setelah lama bersantai dengan lagu-lagu pelan, Yuck melanjutkan aksi distorsi dengan “Get Away”. Kemudian “The Operation” langsung dimainkan, lagu yang memang mirip dengan lagu “Unfair” milik Pavement ini, sepertinya hampir menandai ujung dari penampilan mereka. Seperti tebakan yang sudah-sudah, lagu terakhir yang mereka bawakan adalah “Rubber”, noise yang terus-menerus didengungkan membuat penonton semakin khusyuk menonton sebelum kehabisan. Yuck tidak butuh kostum atau dekorasi basa-basi karena mereka tahu, sepasang Fender Jaguar tidak akan berbohong, dengan 9 lagu di sore itu mungkin banyak penonton yang mulai sadar akan ‘kelebihan’ mereka.
Aksi kedua yang paling ditunggu ada di tengah acara, The Pains of Being Pure at Heart beraksi di panggung kedua (Stage Two) yang sedikit bermasalah dengan sound sejak penampilan Twin Shadow sebelumnya. Dibantu dengan gitaris tambahan yang dipinjam dari The Drums, mereka sudah sangat siap tampil di panggung jauh sebelum Laura Marling mengakhiri penampilannya. Sampai dua kali mereka harus bolak-balik ke belakang panggung, giliran mereka pun tiba. Sayang sekali pada pembukaannya, sound belum berpihak pada mereka. Ada kesalahan teknis dengan salah satu gitarnya, setelah memainkan satu lagu dengan sangat terpaksa mereka harus mundur lagi agar kesalahan bisa diperbaiki. Saya kecewa berat kenapa mereka ketiban apes kesalahan teknis yang tak kunjung diperbaiki, karena mereka sudah sangat siap untuk menghentak panggung. Akhirnya setelah menunggu beberapa menit, mereka kembali untuk memainkan hits 2011-nya “Belong”, dan ternyata kesalahan teknis itu masih ada dan menghadirkan noise yang tidak diinginkan. Tapi penonton terus bernyanyi dan bertepuk tangan guna menyemangati mood personil yang mungkin sudah berantakan.
The Pains of Being Pure at Heart adalah kebangkitan dari indiepop 90-an yang mungkin akan sedikit mengingatkan kita dengan The Field Mice. Selayaknya band indiepop, penampilan mereka tidak dilebih-lebihkan, mereka bermain dengan sangat ‘grounded’. Akhirnya kesalahan teknis bisa diperbaiki dan mereka kembali ke panggung dengan riuh tepuk tangan penonton. Lagu dari album kedua kembali dimainkan “Heavens Gonna Happen Now’ mengawali aksi mereka. Proporsi lagu dari album pertama dan ke dua cukup berimbang. Mereka memainkan ‘A Teenager in Love”, “Young Adult Friction”, “Everything With You”, diselingi dengan lagu album ke dua seperti “Heart in Your Heartbreak” dan “My Terrible Friend”. Suara yang mereka hasilkan saat ‘live’ sungguh membuat lagu-lagunya semakin hidup hingga membuat beberapa rekan yang tadinya biasa saja jadi tergoda untuk kembali mendengarkan mereka. Banyak yang terkejut di awal saat mereka membawakan single “Say No to Love” dan tentunya histeria penonton semakin menjadi-jadi dengan lagu sedih tapi bertempo cepat ini. Padanan suara keyboard Peggy Wang ditemani kehandalan Fender Jaguar milik Kip Berman benar-benar menghadirkan nuanasa indiepop a la Sarah Records yang mungkin sudah lama dirindukan kebangkitannya.
Kedua band ini bisa jadi aksi sederhana yang tidak terlalu pretensius untuk mencuri hati penontonnya. Dengan satu gadis Jepang di dalamnya, kedua band ini menampilkan yang terbaik meskipun ada kesalahan teknis atau waktu tampil yang terlalu dini. Pulang dari festival ini, ada sensasi yang berbeda saat mendengarkan kembali lagu-lagu mereka. Kerinduan generasi yang tumbuh di tahun 90-an serasa terobati dengan kehadiran dua band ini baik dari segi visual maupun attitude. Bahkan, saya tidak akan berpikir dua kali untuk menonton The Pains of Being Pure at Heart kedua kalinya di Jakarta. Kembalikan kami ke era 90-an, saat tampil apa adanya bisa jadi luar biasa. Mungkin ini hanya sebuah romantisme, tapi sebagian besar dari kita adalah generasi MTV yang rindu distorsi. Setelah Laneway Festival 2012, semoga kedua band ini bisa membuktikan kualitas mereka di aksi-aksi selanjutnya. -Afra Ramadhan
Photo by: Afra Ramadhan






















